Sejarah Wisata Berastagi dan Suku – Suku di Brastagi

Sejarah Wisata Brastagi
Sejarah Wisata Brastagi dan Suku – Suku di Berastagi

Sejarah Wisata Berastagi – Brastagi, kota yang terkenal sejuk ini selain menyimpan keindahan dan kesuburan alamnya juga menyimpan berbagai macam potensi wisata dan salah satunya adalah wisata budaya dan sejarah.

Wisata budaya dan sejarah ini bisa ditemui jika mengunjungi rumah-rumah adat Suku Karo. Di Berastagi ada tiga desa yang masih memiliki rumah adat Suku Karo yaitu Peceren, Lingga dan Dokan.

Sejarah Wisata Berastagi

Di Desa Peceren rumah adat yang tersisa hanya tinggal tiga dan cuma satu yang masih ditempati. Salah satu yang menempati rumah ini adalah keluarga Ibu Yanti dan dua keluarga lainnya. “Dahulu biasanya satu rumah diisi oleh delapan keluarga sekarang hanya kami yang tersisa” tutur ibu dua anak ini sambil membuat perapian di dalam rumah.

Rumah Adat Karo dikenal dengan sebutan Siwaluh Jabu berasal dari kata Waluh yang artinya delapan dan Jabu yang artinya rumah. Jadi Siwaluh Jabu adalah rumah yang dihuni oleh delapan keluarga.

Desa Peceren berjarak 1 km dari Brastagi. Ketika memasuki desa ini tidak tampak seperti desa adat lain yaitu Desa Lingga. Desa Lingga sendiri berjarak 14 km dari Brastagi dan mungkin karena jauh dari kota kondisi desa ini masih terawat.

Suku – Suku Sejarah Wisata Berastagi

Rumah Adat Karo ini memiliki keunikan tersendiri dan kaya akan seni arsitektur tingkat tinggi. Bangunan yang dibangun ini memiliki struktur bangunan yang tahan akan gempa dan dalam proses pembuatannya tidak menggunakan paku untuk menyatukannya.

Untuk menyatukan dinding-dinding kayu mereka hanya menggunakan tali ijuk yang dibuat sedemikian rupa sehingga memunculkan ornamen yang sangat cantik bergambar cicak. Bagi orang karo cicak melambangkan binatang yang suka menolong. Ornamen di dinding memiliki lima warna ini melambangkan lima marga yang ada di Suku Karo, yaitu Karo-karo, Ginting, Parangin-angin, Tarigan dan Sembiring.

Selain itu jika beruntung kita juga bisa menyaksikan prosesi pernikahan adat karo. Melihat kesenian dan alat musik tradisional seperti Keteng-keteng dan Balut. Biasanya acara-acara adat diadakan di Jambur yaitu bangunan yang menyerupai aula besar tempa warga berkumpul.

Melihat potensi budaya dan sejarah yang besar ini sayang sekali jika pemerintah daerah mengabaikannya begitu saja. Jika dikelola lebih baik dan digarap seperti halnya Kete’ Kesu di Toraja, Desa Lingga dan desa-desa lainnya bisa menjadi tujuan wisata yang diminati oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *